Jumat, 30 Desember 2022

Kau bilang aku bagian terbaik dari yang terburuk

Bahwa tujuh puluh persen gelasku bukan kau tuang dari botolmu

Mungkin sebotol anggur dengan kadar manis rendah membuatmu lupa

Bahwa ketika masih gadis kau pernah  bahagia

 

Mulutku menahan riak kental, ketika kau membahas tiga sebelum tiga puluh

Jika bahagia bagimu adalah dua puluh tujuh

Maka aku lebih suka air berpuluh-puluh

mengisi gelasku, ketimbang darah yang kekentalannya membunuh

 

Wahai Tuan dan Nyonya,

Gelasku kosong tak bernama

Rabu, 21 Desember 2022

Tulang Panggul

Setitik peluh di sudut pelipis

Tumpah ruah

Bersama ketergesaan yang kembang kempis

Di sela riuh rendah

Ada kubis yang dipanggul

Dan rumah yang dipikul








Gubuk Siput

Di sudut gurun, cangkang kusam bersemayam

Mengangkut rumah di punggung tangan

Menjelma iblis ditelan bayang

 

Di sudut pemukiman, tangan berkejaran

Mengais harapan

Dicekik waktu

Jadi pembakaran kayu

Hangus menjelma asap

Membumbung tinggi ke lautan biru

Jumat, 28 Oktober 2022

Paralisis


 


angsa sayap putih

danau merah tua

angsa bulu hitam

terjerat di terali merah

 

jangan,

berhenti

jangan,

berhenti

jangan,

berhenti

jangan,

berhenti

JANGAN,

BERHENTI!

 

ja

    ngan

              ber

      hen

 ti

 

angsa sayap putih

danau merah tua

angsa bulu hitam

tenggelam di genangan darah

Kamis, 27 Oktober 2022

Roti Empat Tingkat



Kau terlambat, walau aku hanya mengucap kelakar. Dua jam sebelum keberangkatan, kita tidak duduk berdampingan. Kutaruh di sampingmu barang bawaan, agar kau kian awas. Namun keadaan bus yang lengang membawamu ke dunia tanpa teman.

Tak ada tawamu di segelas kopi pahit sepuluh ribuan. Melihatku, kau tersenyum dengan ekspresi ketidaksukaan. Mengapa pilihanku terasa salah, hanya karena dua cincau hijau yang hadir di meja makan? Bahkan di antara puluhan roti yang berbicara, kita tak pernah menyangka. Bahwa di dalam adonan seharga minuman, ada keju yang tak terukur kepadatannya.

Saat kita pergi menjauh, puluhan lantai bertambah di atas gedung empat tingkat. Seseorang berbaju kuning menuntunmu menyeberang jalan. Dan setelah pergi ke sisi lain, hanya dua sambal sachet yang kubawa pulang.


Jumat, 21 Oktober 2022

Bulan Jingga

Kita dua pinang yang dihantam kapak

Sebagianku pergi di tangan bersarung putih pucat
Hancur terkoyak

Apa itu salahku, karena ingin terbagi
Atau salahmu, yang mengatakan tak apa jika pergi?

Kau menjelma bulan jingga, dan aku tetap manusia
Putih, kuning, merah
Tak ada lagi kita

Jumat, 14 Oktober 2022

Telentang

Jarum hitam di dalam kotak

Berbunyi teratur tak tik tak

Mengisi ruang di gendang telinga

Di sela riuh rendah bisik menyiksa

Kala tubuh protes mogok kerja

Namun otak sadar sepenuhnya

Jumat, 07 Oktober 2022

Sarang


Burung kutilang

Pulang ke sarang

Dekat jurang


Rumah, rumah

Tak ingin pindah

Sayang


Asal fondasi kokoh

Ranting dan daun kering

Rekat tak mudah roboh


Esoknya, ditemukan di dasar jurang


Sarangnya utuh

Ia yang jatuh

Jumat, 30 September 2022

Boneka Kembar


Dua boneka bersaling silang

Mengisi malam yang kian panjang

Aku hanya ulurkan sedikit tali kelakar

Namun tak sangka ditariknya hingga ke dasar

Dua sumur berbeda

yang tak mengenal kedalamannya


Pada akhirnya

Menutup tirai untukmu, mencuri panggung demimu

Sampai tersisa aku saja

Badut di panggung boneka 

Sabtu, 10 September 2022

Terik musim panas

Meleleh jadi jeli dan coklat

Cicipi asin di sudut lidah

Dan manis di bawah sana

Puncak gedung tinggi

Puncak kepala mati

Inginku menjadi laki-laki

Melompat di bawah matahari

Minggu, 04 September 2022

Pertaruhan


Terjun dari gedung tinggi

Hujan lunturkan mimpi

Tak ada siapapun di sini

 

Apakah bahagiamu

mengejar mimpi

Ataukah bahagiamu

tanggalkan ambisi?

 

Terjun dari gedung tinggi

Angin menyayat kulit

Gravitasi menarik

beban ke

                  ba

                        wah

                   ge

            lap

     ma

ta

       

Terbangun di ranjang putih

Tak ada jalan kembali

Agung

Di sana bersemayam anak keturunannya Di bawah batu-batu cadas dari gunung yang keras Kendati meninggalkan banyak luka istri mudanya tak pern...