Kau terlambat, walau aku
hanya mengucap kelakar. Dua jam sebelum keberangkatan, kita tidak duduk
berdampingan. Kutaruh di sampingmu barang bawaan, agar kau kian awas. Namun
keadaan bus yang lengang membawamu ke dunia tanpa teman.
Tak ada tawamu di segelas
kopi pahit sepuluh ribuan. Melihatku, kau tersenyum dengan ekspresi
ketidaksukaan. Mengapa pilihanku terasa salah, hanya karena dua cincau hijau
yang hadir di meja makan? Bahkan di antara puluhan roti yang berbicara, kita
tak pernah menyangka. Bahwa di dalam adonan seharga minuman, ada keju yang tak
terukur kepadatannya.
Saat kita pergi menjauh,
puluhan lantai bertambah di atas gedung empat tingkat. Seseorang berbaju kuning
menuntunmu menyeberang jalan. Dan setelah pergi ke sisi lain, hanya dua sambal
sachet yang kubawa pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar