Kamis, 10 Desember 2015

Terlambat (sebuah cerpen)


    “Bunga lily putih adalah yang paling dicari belakangan ini,ucap gadis penjual bunga itu seraya tersenyum manis pada Michelle.

     “Apa maknanya?” Tanya Michelle.

     “Lily memiliki arti kebangkitan hidup. Bunga ini melambangkan kesucian, kerapuhan, dan kesederhanaan. Bunga ini juga melambangkan kasih sayang yang diliputi duka,ujar gadis penjual bunga itu dengan senyum yang sama.

     Kasih sayang... yang diliputi duka. Ah, sangat pas dengan kondisi yang sedang ia alami saat ini. Kesederhanaan? Michelle jadi teringat, dulu ibunya juga wanita yang sangat sederhana. Begitu rapuh, sekaligus kuat—secara emosional.

     “Adakah bunga yang melambangkan kasih sayang yang tulus?” Tanya Michelle lagi.

     “Ada. Kami memiliki anggrek merah muda di sebelah sana. Melambangkan kasih sayang yang murni.”

     Michelle mengikuti arah telunjuk sang gadis  penjual bunga. Ia kagum melihat warna merah muda lembut yang terpancar indahNamun, masih ada yang lebih membuatnya terpesona;

     Bunga mawar... berwarna merah tua.

     Seolah mengerti akan arah pengelihatan Michelle, sang gadis penjual bunga berkata, “Ah, itu? Biasanya mawar merah memang melambangkan cinta kasih, namun di baliknya, bunga ini juga melambangkan kesedihan dan penyesalan.” Sorot matanya berubah sendu. “Bahkan dengan menatapnya saja, kau bisa merasakan kesedihan mendalam yang terpancar dari warnanya, ‘kan?”

     “Aku ambil yang ini.”

***

     Mobil melaju. Michelle pergi dari toko bunga itu setelah membeli 1 tangkai lily putih, 2 tangkai mawar merah tua, dan 2 tangkai anggrek merah muda. Mobil yang ia setir melaju hingga sampai di sebuah tempat yang notabene-nya sepi;

     Pemakaman.

     Ya, hari ini adalah hari kematian ibunya, genap ke-40 harinya.

     Michelle memandang hampa ke arah kanopi angkasa. Gerimis mulai turun. Hawa dingin yang membekukan tulang. Gerimis membuatnya merindukan pelukan dan kehangatan seorang Ibu, namun tak ada yang bisa ia lakukan selain memeluk bunga dalam genggaman.

     Perlahan ia mendekati sebuah nisan. Rangkaian bunga yang ia beli ia taruh di samping nisan.

     Ibu, kasih sayang yang kau berikan masih sangat kuingat, dan bahkan kurindukan. Sebuah kasih sayang yang bahkan belum sempat kubalas dengan hal yang setimpal. Bunga ini melambangkan seluruh perasaanku kepadamu...

     Jumlah bunga memiliki arti secara general. Ia membeli 5 tangkai, yang berarti wujud cinta/kasih sayang.

     Lily putih. Bunga yang memiliki arti kerapuhan dan kesederhanaan,—persis seperti Ibunya—juga melambangkan kasih sayang yang diliputi duka. Ya. Bahkan sampai saat ini, hatinya masih diliputi kedukaan dan rasa sakit yang mungkin akan selalu membekas.

     Anggrek merah muda. Bunga yang melambangkan cinta yang tulus, murni. Rasa yang baru dapat ia rasakan setelah kematian sang ibu.

     Dan yang terakhir... mawar merah tua. Kesedihan, penyesalan. Sedih yang baru bisa ia rasa. Penyesalan yang baru dapat ia kecap. Semuanya—perasaan itu—datang sejak... kematian ibunya, tentu saja.

     Kasih sayang yang selalu seolah ia tolak, tak sempat ia balas. Cinta kasih yang selalu seolah tak dibutuhkan, tak pernah ia hiraukan. Kebahagiaan yang terasa singkat. Tak sempat ia nikmati. Duka dan penyesalan tiada arti, membelenggu hati si anak durhaka yang kini diliputi duka.

     Tanpa ia sadari, setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya, seiring rintik hujan yang mulai menderas.    

Agung

Di sana bersemayam anak keturunannya Di bawah batu-batu cadas dari gunung yang keras Kendati meninggalkan banyak luka istri mudanya tak pern...