“Lagi?”
Dari nada bicaranya, aku tahu ia
mencibir. Mulutnya kasar dan bicaranya lugas. Selain itu, dia juga gemar
bersarkas. Aku tidak suka.
“Jangan pedulikan. Tidak penting.”
Aku menunduk menatapi helai-helai rambut yang berserakan.
Ia tersenyum sinis, “Memang tidak. Sejak
kapan kau sepenting itu?” Ia meraba dahiku yang sebelumnya sempat mencium
tembok lalu mendecih. “Siapa yang bisa betah dengan orang seperti ini?”
Aku menepis tangannya. “Diamlah.”
“Salahmu,” katanya lagi. “Kau sendiri
yang melakukan semua ini. Semuanya salahmu.”
“Aku berusaha, tapi selalu begini.”
Aku menatap tajam matanya.
“Lalu, dimana hasilnya? Aku tidak
melihatnya.” Ia membalas tatapanku nyalang. Aku seketika ciut dibuatnya. Selalu
seperti ini. Aku seringkali kalah berdebat dengannya, terutama dalam situasi
seperti saat ini. “Berhenti berpura-pura.”
Aku menggemeletukkan gigiku kesal.
“Aku bersikap apa adanya walaupun tidak membeberkan semuanya. Itu tidak palsu.”
“Omong kosong,” ia tersenyum sinis.
Ia mengangkat helai-helai rambut yang berserakan itu lalu melemparkannya ke
atas seolah merendahkanku. “Entah apa yang akan mereka pikirkan kalau tahu
ternyata kau orang yang seperti ini.”
“Masih ada harapan mereka akan
menerimaku.” Aku tersenyum canggung.
Ia mendesah lelah lalu mencengkeram
bahuku kuat. Ia menatapku dalam, dan aku bisa melihat emosi dari balik matanya
itu. Amarah? Benci? Ia menarik napas panjang sebelum kemudian membuka mulutnya
lagi.
“Dengarkan aku. Kau adalah
pengganggu. Kau adalah beban. Dengan egois kau gunakan tatapan polosmu untuk
melindungi kebahagiaanmu, dan potret keluarga idealmu. Bila kau tidak ada,
perpisahan sudah bukan masalah sedari dulu. Tapi karena kelahiran wujud kecilmu
yang kerap membawa masalah, mengundang penderitaan bagi orang-orang di
sekitarmu. Sudah tahu begitu, kau masih memilih opsi egois dengan
mempertahankan eksistensimu. Maka tidak heran kalau semua orang muak denganmu.”
“A-Aku…”
“Kau menceritakan kisahmu dengan
harapan menemukan tanggapan yang dapat menenangkan batinmu, eh? Peduli setan!
Memangnya kau siapa?! Kau tidak lihat mereka muak menghadapi tingkahmu yang
selalu berlindung di balik kondisi mentalmu yang lemah? Kau tidak lihat mereka
bosan mengatasi sifatmu yang negatif seakan tak punya semangat hidup? Kau membuat
mereka merasa tidak nyaman!” Ia membentakku, masih dengan tatapan yang sama.
Aku menggigit bibir bawahku
kuat-kuat hingga hampir berdarah.
Binar di matanya perlahan mulai
meredup. Ia tersenyum muram lalu membuka mulutnya lagi, “Daripada tak jelas begini
bukankah lebih baik kau wujudkan fantasi gilamu? Percayalah padaku, jika kau
pergi, mereka hanya akan berkabung sebentar. Selanjutnya, semuanya akan
berjalan lebih baik tanpamu. Sungguh, tidak ada yang lebih baik daripada itu.”
Aku tidak tahan lagi. Cangkangku
retak. Tangisku pecah. Kubekap wajahku dengan bantal kuat-kuat. Seluruh ruangan
diselimuti histeria. Kewarasanku seperti hilang, dan ia terus membisikiku
hal-hal itu di sela-sela tangisku. Bahwa aku adalah pengecut. Penakut yang tak
bisa bangkit. Si dungu yang hanya bisa menyesal di akhir. Badak bodoh yang
terus saja menghantamkan kepalanya ke tembok hingga culanya patah. Si keras kepala
yang tidak akan bisa maju.
Cukup lama aku begitu, hingga
akhirnya berhenti karena lelah. Mataku sembap, dan suaraku serak. Sementara ia
masih tetap di sana.
Ia menolehkan wajahnya ke arah nakas
di sampingku, seolah memintaku untuk menoleh dan melihat cutter yang tergeletak di sana.
“Kalau memang tidak mau lagi, akhiri
saja.”
Dia selalu bilang begitu, dan kami
kerapkali berdebat alot soal hal ini. Sejauh ini aku berhasil lepas. Entah hari
ini.
“Apa aku saja yang melakukannya?” Ia
tiba-tiba memposisikan kedua tangannya pada leherku.
“Lakukan dengan cepat.”
Aku memejamkan mataku—
RIRIRIRIRING~
Kami terkesiap. Aku refleks menoleh ke arah gawai di sampingku yang sedari tadi terabai. Tampak notifikasi pesan dari nama yang sangat kukenal. Aku dengan lemas meraihnya, lalu membacanya.
Mataku membulat. Mama.
Aku melihat ke arah samping. Ia
menangis tersedu-sedu. Binar di matanya kembali timbul, seperti mendapat
secercah harapan hidup.
Aku tersenyum seraya meraba
permukaan licin benda pemantul bayangan itu, lalu berkata.
“Lihat, masih ada yang menyayangi
kita.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar