Selasa, 14 Juli 2020

KAMI (sebuah cerpen)

            “Lagi?”

            Dari nada bicaranya, aku tahu ia mencibir. Mulutnya kasar dan bicaranya lugas. Selain itu, dia juga gemar bersarkas. Aku tidak suka.

            “Jangan pedulikan. Tidak penting.” Aku menunduk menatapi helai-helai rambut yang berserakan.

            Ia tersenyum sinis, “Memang tidak. Sejak kapan kau sepenting itu?” Ia meraba dahiku yang sebelumnya sempat mencium tembok lalu mendecih. “Siapa yang bisa betah dengan orang seperti ini?”

            Aku menepis tangannya. “Diamlah.”

            “Salahmu,” katanya lagi. “Kau sendiri yang melakukan semua ini. Semuanya salahmu.”

            “Aku berusaha, tapi selalu begini.” Aku menatap tajam matanya.

            “Lalu, dimana hasilnya? Aku tidak melihatnya.” Ia membalas tatapanku nyalang. Aku seketika ciut dibuatnya. Selalu seperti ini. Aku seringkali kalah berdebat dengannya, terutama dalam situasi seperti saat ini. “Berhenti berpura-pura.”

            Aku menggemeletukkan gigiku kesal. “Aku bersikap apa adanya walaupun tidak membeberkan semuanya. Itu tidak palsu.”

            “Omong kosong,” ia tersenyum sinis. Ia mengangkat helai-helai rambut yang berserakan itu lalu melemparkannya ke atas seolah merendahkanku. “Entah apa yang akan mereka pikirkan kalau tahu ternyata kau orang yang seperti ini.”

            “Masih ada harapan mereka akan menerimaku.” Aku tersenyum canggung.

            Ia mendesah lelah lalu mencengkeram bahuku kuat. Ia menatapku dalam, dan aku bisa melihat emosi dari balik matanya itu. Amarah? Benci? Ia menarik napas panjang sebelum kemudian membuka mulutnya lagi.

            “Dengarkan aku. Kau adalah pengganggu. Kau adalah beban. Dengan egois kau gunakan tatapan polosmu untuk melindungi kebahagiaanmu, dan potret keluarga idealmu. Bila kau tidak ada, perpisahan sudah bukan masalah sedari dulu. Tapi karena kelahiran wujud kecilmu yang kerap membawa masalah, mengundang penderitaan bagi orang-orang di sekitarmu. Sudah tahu begitu, kau masih memilih opsi egois dengan mempertahankan eksistensimu. Maka tidak heran kalau semua orang muak denganmu.”

            “A-Aku…”

            “Kau menceritakan kisahmu dengan harapan menemukan tanggapan yang dapat menenangkan batinmu, eh? Peduli setan! Memangnya kau siapa?! Kau tidak lihat mereka muak menghadapi tingkahmu yang selalu berlindung di balik kondisi mentalmu yang lemah? Kau tidak lihat mereka bosan mengatasi sifatmu yang negatif seakan tak punya semangat hidup? Kau membuat mereka merasa tidak nyaman!” Ia membentakku, masih dengan tatapan yang sama.

            Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga hampir berdarah.

            Binar di matanya perlahan mulai meredup. Ia tersenyum muram lalu membuka mulutnya lagi, “Daripada tak jelas begini bukankah lebih baik kau wujudkan fantasi gilamu? Percayalah padaku, jika kau pergi, mereka hanya akan berkabung sebentar. Selanjutnya, semuanya akan berjalan lebih baik tanpamu. Sungguh, tidak ada yang lebih baik daripada itu.”

            Aku tidak tahan lagi. Cangkangku retak. Tangisku pecah. Kubekap wajahku dengan bantal kuat-kuat. Seluruh ruangan diselimuti histeria. Kewarasanku seperti hilang, dan ia terus membisikiku hal-hal itu di sela-sela tangisku. Bahwa aku adalah pengecut. Penakut yang tak bisa bangkit. Si dungu yang hanya bisa menyesal di akhir. Badak bodoh yang terus saja menghantamkan kepalanya ke tembok hingga culanya patah. Si keras kepala yang tidak akan bisa maju.

            Cukup lama aku begitu, hingga akhirnya berhenti karena lelah. Mataku sembap, dan suaraku serak. Sementara ia masih tetap di sana.

            Ia menolehkan wajahnya ke arah nakas di sampingku, seolah memintaku untuk menoleh dan melihat cutter yang tergeletak di sana.

            “Kalau memang tidak mau lagi, akhiri saja.”

            Dia selalu bilang begitu, dan kami kerapkali berdebat alot soal hal ini. Sejauh ini aku berhasil lepas. Entah hari ini.

            “Apa aku saja yang melakukannya?” Ia tiba-tiba memposisikan kedua tangannya pada leherku.

            “Lakukan dengan cepat.”

            Aku memejamkan mataku—

            RIRIRIRIRING~

            Kami terkesiap. Aku refleks menoleh ke arah gawai di sampingku yang sedari tadi terabai. Tampak notifikasi pesan dari nama yang sangat kukenal. Aku dengan lemas meraihnya, lalu membacanya.

            Mataku membulat. Mama.

            Aku melihat ke arah samping. Ia menangis tersedu-sedu. Binar di matanya kembali timbul, seperti mendapat secercah harapan hidup.

            Aku tersenyum seraya meraba permukaan licin benda pemantul bayangan itu, lalu berkata.

            “Lihat, masih ada yang menyayangi kita.”

Agung

Di sana bersemayam anak keturunannya Di bawah batu-batu cadas dari gunung yang keras Kendati meninggalkan banyak luka istri mudanya tak pern...